27 Desember 2007

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa latin communis yang berarti “sama”, communico, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang pa­ling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata - kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat “Kita berbagi pikiran”, “Kita mendiskusikan makna, dan “Kita mengirimkan pesan”.
Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya “Komunikasi adalah penyampai pesan melalui media elektronik”, atau terlalu luas, misalnya “Komunikasi adalah interaksi antara dua makhluk hidup atau lebih sehingga para peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan tanaman, dan bahkan jin. Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai “berbagi pengalaman”. Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagi pengalaman.
Sebagaimana dikemukakan Johr R. Wenburg dan William W. Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, seti­daknya ada tiga pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu-arah, komunikasi sebagai in­teraksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
Suatu pemahaman populer mengenai komunikasi manusia adalah komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang (atau suatu lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) baik secara langsung (tatap-muka) ataupun melalui media (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Misalnya, seseorang itu mempunyai informasi mengenai suatu masalah, lalu ia menyampaikannya kepada orang lain, orang lain mendengarkan, dan mungkin berperilaku sebagai hasil mende­ngarkan pesan tersebut, lalu komunikasi dianggap telah terjadi. Jadi, komunikasi dianggap suatu proses linier yang dimulai dengan sumber atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya.
Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Pemahaman komunikasi sebagai proses searah ini oleh Michael Burgoon disebut sebagai “definisi berorientasi-sumber” (source-oriented definition) Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu ke­pada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Definisi komunikasi demikian mengabaikan komunikasi yang tidak disengaja, seperti pesan yang tidak direncanakan yang terkandung dalam nada suara atau ekspresi wajah, atau isyarat lain yang spontan. Definisi-definisi berorientasi-sumber ini juga mengabaikan sifat prosesual interaksi-memberi dan menerima- yang menimbulkan pengaruh timbal balik antara pembicara dan pendengar. Singkatnya, konseptualisasi komunikasi sebagai tindakan satu­-arah menyoroti penyampaian pesan yang efektif dan mengisyaratkan bahwa semua kegiatan komunikasi bersifat persuasif. Beberapa definisi yang sesuai dengan konsep ini adalah sebagai berikut.
Bernard Berelson dan Gary A. Steiner:
“Komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.”
Theodore M. Newcomb:
“Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima
Carl L Hovland:
“Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang mengubah perilaku orang lain (komunikate).”
Gerald R. Miller:
“Komunikasi terjadi ketika suatu kepada penerima dengan niat yang penerima.”
Everett M. Rogers:
“Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Raymond S. Ross:
“Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.”
Harold Lasswell:
(Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Atau Siapa Mengatakan A~ Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?”
Komunikasi sebagai interaksi
Konseptualisasi kedua yang sering diterapkan pada komunikasi interaksi. Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergan­tung pada seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban verbal atau anggukkan kepala, kemudian orang pertama bereaksi lagi menerima respons atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya.·
Komunikasi sebagai transaksi
Ketika anda mendengarkan seseorang yang berbicara, sebenarnya pada saat itu bisa saja anda pun mengirimkan pesan secara nonver­bal (isyarat tangan, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya) kepada pembicara tadi. Anda menafsirkan bukan hanya kata-kata pembicara tadi, juga perilaku nonverbalnya. Dua orang atau bebe­rapa orang yang berkomunikasi, saling bertanya, berkomentar, me­nyela, mengangguk, menggeleng, mendehem, mengangkat bahu, memberi isyarat dengan tangan, tersenyum, tertawa, menatap, dan sebagainya, sehingga proses penyandian (encoding) dan penyandian-balik (decoding) bersifat spontan dan simultan di antara orang­ orang yang terlibat dalam komunikasi. Semakin banyak orang yang berkomunikasi, semakin rumit transaksi komunikasi yang terjadi. Bila empat orang peserta terlibat dalam komunikasi, akan terdapat lebih banyak peran, hubungan yang lebih rumit, dan lebih banyak pesan verbal dan nonverbal.
Dalam konteks ini komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran anda atas perilaku verbal dan nonverbal orang lain yang anda kemukakan kepadanya juga mengubah penaf­siran orang lain tersebut atas pesan-pesan anda, dan pada giliran­nya, mengubah penafsiran anda atas pesan-pesannya, begitu sete­rusnya. Menggunakan pandangan ini, tampak bahwa komunikasi bersifat dinamis. Pandangan inilah yang disebut komunikasi sebagai transaksi, yang lebih sesuai untuk komunikasi tatap muka yang mungkinkan pesan atau respons verbal dan nonverbal bisa di­ketahui secara langsung.
Kelebihan konseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah bahwa komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang disengaja atau respons yang dapat diamati. Artinya, komunikasi terjadi apakah para pelakunya menyengajanya atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respons yang tidak dapat diamati. Berdiam diri, mengabaikan orang lain di sekitar, bahkan meninggalkan ruangan, semuanya bentuk-bentuk komunikasi, semuanya mengi­rimkan sejenis pesan. Gaya pakaian dan rambut anda, ekspresi wajah anda, jarak fisik antara anda dengan orang lain, nada suara anda, kata-kata yang anda gunakan, semua itu mengkomunikasikan sikap, kebutuhan, perasaan dan penilaian anda.Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Beberapa definisi yang sesuai dengan pemahaman ini adalah, antara lain:
John. R. Wenburg dan William W. Wilmot:
“Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna”
Donald Byker dan Loren J Andersou:
“Komunikasi (manusia) adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih.”
William l. Gorden:
“Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.”
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson:
“Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.”
Stervart L. Tubbs dan Sylvia Moss:
“Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.” Klasifikasi Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa sosial melainkan pada situasi tertentu. Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan komunikasi adalah berdasarkan jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi.
a. Menurut Kelompok Sarjana Komunikasi Amerika (Human Comm. 1980)
Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communications)
Komunikasi Kelompok (Group Communications)
Komunikasi Organisasi (Organizational Communications)
Komunikasi Massa (Mass Communications)
Komunikasi Publik (Public Communications )
b. Joseph A DeVito (Communicology 1982)·
Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communications)·
Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communications)·
Komunikasi Publik (Public Communications)·
Komunikasi Massa (Mass Communications)
c. R. Wayne Pace (Techniques for Effective Communications, 1979)
Komunikasi dengan diri sendiri (Intrapersonal Communications)
Komunikasi antarpribadi (Interpersonal Communications)
Komunikasi khalayak (Audience Communications)
Penjelasan:
1. Intrapersonal Communications
• Proses Komunikasi yang terjadi dalam diri individu (dengan diri sendiri)• Terjadi karena terjadinya pemberian makna pada obyek. Obyek yang diamati mendapatkan rangsangan panca indra kemudian mengalami proses perkembangan dalam pikiran manusia.• Mendapatkan perhatian besar dari kalangan psikologi behavioristik.• Merupakan landasan untuk melakukan komunikasi antarpribadi. Keberhasilan komunikasi kita dengan orang lain bergantung pada keefektifan komunikasi kita dengan diri sendiri.
2. Interpersonal Communications
• Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka (R wayne Pace, 1979)
• Bentuk khusus dari komunikasi ini adalah Komunikasi Diadik (Dyadic Communications) yaitu dengan karakteristik : Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang dalam situasi tatap muka, dibagi atas percakapan, dialog, wawancara. Komunikasi diadik memkiliki ciri: Pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak dekat dan pihakpihak yang berkomunikasi mengirimkan dan menerima pesan secara spontan dan simultan.• Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain.
3. Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut Contohnya seperti; keluarga, kelompok studi dan kelompok diskusi. Dapat juga terjadi pada kelompok kecil (small group communications)
4. Komunikasi Kelompok Kecil
Proses komunikasi yang berlangsung antara 3 orang atau lebih secara tatap muka dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lain. Tidak ada jumlah batasan anggota yang pasti, 2-3 orang atau 20-30 orang tetapi tidak lebih dari 50 orang. Komunikasi kelompok dengan sendirinya melibatkan pula komunikasi antarpribadi.
5. Public Communications
Komunikasi publik adalah proses komunikasi dimana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar dan tidak dikenali satu persatu. Disebut juga sebagai komunikasi kelompok besar (large group comm.), komunikasi pidato, komunikasi retorika, public speaking. Berlangsung secara lebih formal, dituntut persiapan pesan yang cermat, keberanian dan keahlian menghadapi sejumlah besar orang. Daya tarik fisik, keahlian dan kejujran pembicara dapat menentukan efektifitas penyampaian pesanCiri-ciri Komunikasi Publik• Satu pihak (pendengar ) cenderung lebih pasif.• Interaksi antara sumber dan penerima terbatas• Umpan balik yang diberikan terbatas• Dilakukan di tempat umum seperti di kelas, auditorium, tempat ibadah.• Dihadiri oleh sejumlah besar orang• Biasanya telah direncanakan• Sering bertujuan untuk memberikan penerangan, menghibur, memberikan penghormatan dan membujuk
6. Organizational Communications
Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan komunikasi yang lebih besar daripada komunikasi kelompok. Melibatkan komunikasi diadik, komunikasi antar pribadi dan komunikasi publik. Komunikasi formal adalah menurut struktur organisasi yaitu komunikasi ke bawah dan ke atas serta komunikasi horizontal. Komuniksi informal tidak tergantung pada struktur organisasi seperti komunikasi dengan sejawat, termasuk juga gosip.
7. Mass Communications
Adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen. Proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanik seperti; radio, televisi, surat kabar dan film. Pesan-pesan bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.
Ciri-ciri Komunikasi Massa• Sifat pesan terbuka• Khalayak variatif baik dari segi usia,agama, suku, pekerjaan maupun dari segi kebutuhan• Sumber dan penerima dihubungakan oleh saluran yang diproses secara mekanik• Sumber merupakan suatu lembaga atau institusi• Komunikasi berlangsung satu arah• Umpan balik lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Dengan kemajuan teknologi, saat ini sudag lebih dapat teratasi• Sifat penyebaran pesan yang berlansung cepat dan serempak serta luas mampu mengatasi jarak dan waktu. Dapat bertahan lama bila didokumentasikan• Dari segi ekonomi biaya untuk memproduksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan tenaga kerja yang relatif banyak untuk mengelolanya
Komunikasi massa menurut De Vito (1996) adalah milik umum, setiap orang dapat mengetahui pesn-pesan komunikasi melalui media massa, karena komunikasi berjalan cepat maka pesan yang akan disampaikan kepada khalayak silih berganti tanpa selisih waktu.Unsur – unsur dalam komunikasia. Sumber ( Source ) : Pihak yang berinisiatif atau berkebutuhan untuk berkomunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, dll.b. Pesan (Massage) : Apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat symbol verbal dan/ atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.c. Saluran/Media (Channel) : alat/ wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.d. Penerima (Receiver) : Orang yang menerima pesan dari sumber. Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir dan perasaan. Penerima pesan ini menerjemahkan/ menafsirkan seperangkat symbol verbal dan/ atau non verbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia pahami.e. Efek (Effect) : Apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.f. Proses Encoding: Adalah proses pemilihan symbol/alat angkut pesan. Dilakukan oleh Pengirim pesan.

MAAFKAN AKU CHIKA

Bel jam masuk berdering. Chika bergegas menuju ke kelasnya yang terletak di ujung koridor. Ya, hari Senin adalah hari yang sangat dibenci oleh anak-anak SMA Nostradamus, termasuk Chika, gadis manis yang sangat “digemari” oleh segala macam tipe cowok. Mulai dari yang culun, romantis, sok puitis, narsis, bahkan hingga yang reformis. Sudah banyak cowok yang menyatakan cinta dengan berbagai cara, tetapi dengan sigap, Chika menangkis semua panah-panah asmara yang menuju kepadanya.
Pada jam pertama ini, Matematika akan mengawali penderitaan panjang para murid di hari Senin. Guru killer asli negara tetangga kita, China, yang bernama Ju Xing, memasuki kelas Chika dengan langkah santai tetapi mampu membuat kaki meja dan kaki murid-murid bergetar kencang bak vibrator.
”Selamat pagi anak-anak! Bagaimana? Soal-soal latihan 600 nomor yang saya berikan minggu lalu sudah selesai bukan?” sapa Pak Ju Xing mengawali pertemuan “indah” di pagi itu.
“Sudaahh Paakk!!!” teriak seluruh murid kompak.
“Baik. Hari ini Bapak punya kabar gembira,” kata Pak Ju Xing dengan muka yang sangat kusut, “Kalian akan mendapat teman baru. Dia pindahan dari Bogor,” lanjut beliau.
“Indra, silakan masuk,” panggil Pak Ju Xing pada sosok pria jangkung di luar kelas, “perkenalkan dirimu di depan kelas.”
Cowok bernama Indra berjalan perlahan menuju ke depan kelas. Tingginya sekitar 180cm, badannya juga cukup berisi. Wajahnya lumayan cakep, hanya sayang, air mukanya tampak selalu dingin. Seragam OSISnya sengaja dikeluarkan, menambah kesan keren pada dirinya. Chika yang biasanya anti melirik cowok pun terpana ketika Indra memasuki kelas.
“Hai. Gue Indra,” katanya memperkenalkan diri.
“Hai juga Indra! Udah punya cewek belum? Aku mau kok jadi cewekmu!” seru Ratna genit.
“Hiih, dasar kegatelan! Mendingan juga gue daripada elo!” sahut Mesty.
“Eh..eh..ehh, yang ada juga mendingan gue dong!” timpal Rani tak mau kalah.
“DIIIAAAAAAM!!!” bentak Pak Ju Xing, “kita mulai pelajarannya sekarang. Indra, silakan duduk di sebelah Chika.”
Indra pun duduk di sebelah Chika. Chika sedikit salah tingkah ketika Indra duduk di sebelahnya. Mereka pun berkenalan. Ketika pelajaran dimulai, mereka bukannya memperhatikan Pak Ju Xing, tetapi malah asik bercerita tentang sekolah asal Indra. Chika pun juga bercerita tentang keadaan di SMA Nostradamus. Walaupun tampangnya dingin, tetapi sebenarnya Indra cukup mengasyikkan ketika diajak ngobrol. Chika pun semakin tertarik pada Indra.
“Eh, kita ke kantin bareng yuk,” ajak Indra ketika bel istirahat berbunyi.
“Aku udah janjian mau ke kantin sama temen-temen sih. Mmm..gimana kalo kamu gabung sama temen-temenku aja?” tawar Chika.
“Gitu juga boleh deh. Sekarang kan?” sahut Indra.
“Nggak! Tahun depan aja! Ya sekarang lah,” balas Chika sambil tertawa terbahak-bahak.
Hari itu, Indra pun makan di kantin bersama Chika dan teman-temannya. Demikian pula hari-hari selanjutnya hingga tak terasa mereka pun menjadi semakin akrab. Indra sering mengantar Chika pulang, Chika pun selalu mengajak Indra bila dia ingin ke toko buku atau sedang mencari bahan tugas sekolah. Banyak cowok yang iri melihat keakraban mereka.
“Gila! Apa sih yang diliat sama Chika? Tu anak baru perasaan tampangnya juga biasa-biasa aja. Tapi kenapa bisa bikin Si Chika kepincut gitu ya?” tukas Rainbow, cowok paling ganteng dan keren di sekolah.
Ya, memang banyak pria tampan yang dibuat patah hati sejak kedatangan Indra ke sekolah itu. Padahal Indra selalu bersikap biasa, nggak pernah ada maksud untuk tepe-tepe alias tebar pesona. Mungkin sikap cool-nya itulah yang mampu membuat Chika kelepek-kelepek.
Dua bulan kemudian, mereka berdua semakin akrab, bahkan bisa dibilang mesra. Dimana ada Chika, selalu ada Indra. Namun, mereka masih tetap bersahabat hingga akhirnya pada suatu sore sehabis Chika selesai latihan basket, Indra mengajak Chika ke suatu tempat di daerah Bogor. Di sana mereka berdua dapat melihat bintang-bintang di langit dengan jelas sekaligus melihat pemandangan kota yang bertaburan lampu.
“Ini namanya Bukit Bintang. Di sini kita bisa ngliat bintang-bintang di langit. Asal nggak hujan lho,” kata Indra sembari bercanda.
“Wah, keren banget Ndra!” seru Chika takjub.
“Iya. Aku sendiri yang menamai bukit ini. Aku waktu kecil sering main disini. Soalnya rumahku nggak jauh dari sini sih,” tambah Indra menjelaskan.
“Masa sih? Keren banget!” seru Chika masih dengan nada tak percaya. “Tapi ngeri. Di bawah jurangnya dalem banget,” lanjutnya.
“Nggak usah takut. Kan ada aku disini. Nggak mungkin lah, aku biarin kamu jatuh ke bawah,” sahut Indra menenangkan.
“Oh iya, aku mau bilang sesuatu,” kata Indra lagi, “Sebenernya sejak awal kita kenalan, aku udah ngrasa suka sama kamu. Dan sekarang rasa itu udah berubah jadi sayang. Mmm... kamu mau jadi pacarku nggak?”
Chika bena-benar kaget. Dia sama sekali tidak menyangka, Indra akan menyatakan cintanya secepat itu. Dia sebenarnya masih ingin berteman dengan Indra untuk beberapa waktu lagi. Memang dia merasa sayang pada Indra, tapi dua bulan dirasanya terlalu cepat untuk menjalin kisah cinta mereka. Di satu sisi Chika ingin memiliki Indra, namun di sisi lain Chika belum siap berpacaran dengan Indra.
“Mmm... Gimana ya Ndra? Kayaknya nggak bisa jawab sekarang deh,” jawab Chika gugup, takut jika Indra akan marah.
“Kenapa Chika? Aku kan sayang banget sama kamu,” ucap Indra lirih tapi penuh harap.
“Bukan masalah itu Ndra. Aku juga sebenernya sayang sama kamu. Tapi kita baru kenal dua bulan, dan aku belum cukup mengenal kamu. Aku nggak mau tergesa-gesa pacaran, aku nggak mau pacaran kalo akhirnya cuma tahan bentar,” jelas Chika.
“Kamu nggak percaya sama aku? Aku bener-bener sayang kamu Chika. Aku akan selalu jagain kamu, aku akan selalu setia sama kamu. Please Chika!” pinta Indra memelas.
“Aku percaya kok. Tapi tolong, kasi aku waktu sebulan sampai dua bulan lagi biar aku bisa lebih ngerti kamu,” Chika berusaha menolak sehalus mungkin.
“Tapi Chika......”
Kata-kata Indra terhenti. Suasana menjadi benar-benar hening. Chika bertambah takut. Insting kekanak-kanakannya mengisyaratkan Indra akan marah besar dan mencelakai dirinya. Bersamaan dengan itu, Indra juga mulai melangkah mendekati Chika dengan langkah gontai. Chika semakin takut, jantungnya berdegup sangat kencang hingga dadanya sesak, kakinya pun gemetaran tak terkendali. Dia ingin sekali berteriak meminta pertolongan. Badan Indra sudah hampir menempel ke tubuh mungil Chika, wajahnya pun sudah semakin dekat hingga Chika bisa merasakan deru hembusan nafas Indra. Dan ketika mulutnya terbuka hendak mengeluarkan suara, dia tercengang. Mata Indra memerah dan berair. Beberapa tetes diantaranya mengalir pelan di pipinya. Tak lama kemudian, terdengar suara isakan. Ya, Indra menangis, dia lalu menyandakan kepalanya ke bahu Chika. Chika terheran-heran, kemudian tersenyum geli karena semula dia mengira Indra akan murka. Chika kemudian mengelus kepala Indra mencoba menenangkan cowok itu.
“Kamu kenapa Ndra? Kok tiba-tiba nangis gini?” tanya Chika halus.
“Aku teringat lagi sama cewek yang aku sayang dulu. Aku sayang banget sama dia, tapi dia nggak suka aku dan pergi ninggalin aku,” jawab Indra masih sesenggukan.
“Ssstt... Udah Ndra, nggak usah diinget-inget terus. Memangnya cewek itu pergi kemana? Lagian aku nggak akan ninggalin kamu kan. Kita kan satu sekolah,” desah Chika perlahan.
“Nggak mungkin! Kamu juga akan ninggalin aku. Disini, di tempat ini, di tempat yang sama sewaktu Rissa ninggalin aku,” jawab Indra dengan nada suara yang semakin meninggi.
“Hah? Nggak Ndra, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku janji mau jadi pacarmu, tapi nggak sekarang. Jawab dulu dong pertanyaanku yang tadi, dia emang pergi kemana?” Chika kembali bertanya.
“Ke dasar jurang itu,” jawab Indra dingin sembari tangannya mendorong badan Chika ke jurang di depannya.
“Aaaaaaaaa........!!” jerit Chika ketika badannya melayang di kegelapan malam. Suaranya bergema di jurang itu hingga akhirnya terhenti ketika tubuh Chika menghantam dasar jurang.
“Maafkan aku Chika. Aku sayang kamu, tapi kamu nggak mau menerima cintaku. Aku terpaksa mengantar kamu ke tempat Rissa yang juga menolak cintaku. Selamat menanti di dasar gelap itu,” kata Indra lebih dingin dari sebelumnya. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Bukit Bintang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Tak pernah ada yang mengetahui berita kematian Rissa dan Chika. Hilangnya mereka pun meninggalkan misteri bagi orang-orang yang ditinggalkan. Tubuh mereka yang belum ditemukan tersebut masih bertahan di dasar jurang yang gelap, menanti Indra kembali datang dan menyatakan cinta kembali.

LAGAK JAKARTA: SEGUDANG KRITIK YANG MENGGELITIK

Tanggal 10 November 2007 lalu, Kepustakaan Populer Gramedia meluncurkan ulang serial kartun Lagak Jakarta, karya Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad. Serial yang pertama kali terbit di tahun 1997 tersebut sebenarnya berjumlah 6 buku, yaitu Trend dan Perilaku, Transportasi, Profesi, Krisis Oh Krisis, Reformasi, Hura-Hura Pemilu 99. Namun dalam edisi koleksi yang ini, keenamnya dilebur menjadi 2 buku. Buku I berisi tiga judul, Trend dan Perilaku, Transportasi, dan Profesi. Sedangkan buku II berisi Krisis Oh Krisis, Reformasi, dan Hura-Hura Pemilu 99.

Buku ini menceritakan Jakarta sebagai potret kehidupan yang penuh warna. Di sana tersimpan mimpi-mimpi, ambisi, dan harapan. Di sana pula terukir kisah-kisah kegetiran dan kebahagiaan anak manusia, yang terkadang penuh ironi, satire, aneh, dan menggelikan. Lewat Lagak Jakarta Benny dan Mice melaporkan semua itu sebagai reportase sosial.

Hal yang paling menarik dari komik ini adalah bagaimana kedua penciptanya berhasil menangkap segala detail dan hal-hal kecil yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jakarta. Contohnya, bagaimana seorang karyawan yang malu ketika terlihat naik ojek ke kantor kemudian berlagak akrab dengan tukang ojeknya agar disangka diantar teman dan bukan tukang ojek. Diceritakan pula kebingungan masyarakat yang dihadapkan pada krisis moneter 1997. Tempe goreng pun ikut terkena imbasnya. Sebelum krisis tebal tempe goreng mencapai 4mm, tetapi setelah krisis tinggal 2mm. Kekonyolan-kekonyolan di balik peristiwa sehari-hari yang ada pada masyarakat Jakarta hampir terekam seluruhnya.

Namun demikian, untuk level komik yang identik dengan bacaan ringan, bahasa yang dipakai oleh Benny dan Mice terkadang agak “tinggi” dan tidak bisa dicerna dengan mudah terutama oleh kalangan anak-anak. Akan tetapi, secara keseluruhan buku ini sangat bagus. Benny dan Mice menuangkan dengan baik kehidupan masyarakat Jakarta ke dalam gambar-gambar kartun mereka.

Perbedaan mendasar antara 2 buku ini dengan keenam buku sebelumnya terletak pada penokohannya. Tidak seperti buku-buku sebelumnya yang memasang Benny dan Mice sebagai tokoh utama, kedua buku ini justru mengangkat kisah dan berita terkini dari peristiwa-peristiwa yang terjadi antara tahun 1997-2007. Jadi di balik kelucuan dan kekonyolan buku ini, Benny dan Mice yang juga lulusan Desain Grafis Fakultas Seni Rupa IKJ ini mampu memberi sindiran, bahkan hantaman keras yang ditujukan bagi banyak orang. Tidak hanya para pemimpin orde baru, tetapi juga para pendatang baru di kancah politik nasional.

Sangat disayangkan jika Anda belum membaca buku ini, karena buku ini mampu mengocok perut para pembacanya. Hanya dengan 76.000 rupiah, Anda akan mendapat 2 buku yang siap membuat Anda terbahak-bahak oleh kekonyolannya serta bonus 2 buah pin. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat membaca dan tertawa terbahak-bahak.